Jumat, 01 Juni 2012

Skema Proses Produksi Industri Percetakan

Tren dunia cetak massal diabad ini cenderung mengikuti dan mengadopsi teknologi yang semakin berkembang. Seperti halnya teknologi CTP (Computer to Plate) yang hampir menggantikan teknologi CTF (Computer to Film), memungkinkan kita dapat memangkas salah satu mata rantai produksi, yaitu pembuatan film. Hal ini akan berdampak pada penurunan beban biaya produksi percetakan.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa teknologi telah mempengaruhi cara pandang, pola kerja, pembentukan, penyajian dan penikmatan sumber informasi yang terus bergulir. Teknologi tersebut oleh sebagian kalangan sementara ini ibarat dua sisi mata uang yang berbeda tetapi mempunyai tujuan dan makna yang sama. Disatu sisi, aplikasi CTP hanya dapat diterapkan pada situasi dimana kebutuhan akan waktu teramatlah langka atau bahkan sama sekali tidak ada waktu yang dapat dialokasikan untuk proses pembuatan film dan pengkoreksian terakhir naskah/materi yang akan dicetak.

Proses CTP banyak memangkas biaya pembuatan film separasi dan hemat waktu secara signifikan. Metode ini banyak dilakukan pada industri percetakan kategori media massa yang diburu waktu deadline yang teramat ketat, seperti majalah dan surat kabar.

Secara umum, proses produksi di industri percetakan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Penjelasan Skema Proses Produksi Percetakan:

Untuk menjadi sebuah produk cetak yang sempurna, maka aneka macam barang percetakan memerlukan beberapa proses produksi yang harus dilewati. Banyak atau tidaknya proses tersebut, tentu saja sangat tergantung dari sederhana atau tidaknya barang-barang cetak yang akan dibuat.

Adapun proses produksi cetak dengan menggunakan mesin cetak offset yang umum berlaku adalah sebagai berikut:

A. Pra-cetak

  1. Persiapan bahan kertas: seperti kertas HVS, BC, kenstruk, doorslags, matte paper, NCR, kertas wangi, duplex, ivory, dsb. disesuaikan dengan keperluan. Bisa juga blanko cetak, yaitu bahan cetak yang ukuran dan bentuknya telah jadi dan tinggal masuk ke proses cetak.
  2. Setting Computer: format yang akan dibuat pada barang cetakkan.. ukuran, naskah, serta desain grafisnya ditentukan di sini, dan biasanya diakhiri dengan diprint di kertas folio, kertas kalkir, atau film sparasi.
  3. Rekam (Ekspose) Plate : hasil settingan atau film yang telah diprint tadi direkam (semacam dicopy) ke plat kertas atau plat aluminium (paper plate/aluminium plate) sehingga naskah cetakkan pun terdapat di atasnya, dan plat cetak inilah yang akan dipasang pada mesin cetak.

B. Cetak:

  1. Plat cetak beserta bahan kertas yang telah siap pada proses pracetak tadi lalu dipasang di mesin cetak, dan ditempatkan di posisinya masing-masing berdasarkan fungsinya. Plat cetak dipasang di atas roll yang terdapat di atas mesin, sedangkan bahan kertas dipasang pada tempat mendatar di bawah roll tersebut. Dan tinta pun dipersiapkan pula pada tempatnya (warna sesuai yang diinginkan)
  2. Setelah plat cetak, bahan kertas, dan tinta siap atau terpasang, maka mesin pun dijalankan.. dan terjadilah proses cetak. Tinta masuk ke roll yang telah terpasang plat cetak, roll berputar di atas bahan kertas memindahkan naskah yang ada di plat cetak ke bahan kertas tersebut melalui tinta, dan kertas pun keluar satu persatu berisi naskah yang sudah jadi. 

C. Finishing:

  1. Proses potong atau sisir kertas, dengan tujuan untuk membagi beberapa kertas hasil cetak tadi menjadi beberapa bagian, atau bisa juga hanya sekedar untuk merapihkan kertas.
  2. Foil, membubuhi kertas dengan tulisan atau gambar “mengkilat” seperti warna emas, perak, biru, merah, dsb.
  3. Embossed, menghiasi kertas cetak dengan tulisan atau gambar, dimana hiasan tersebut berbentuk kertas yang timbul atau tenggelam akibat pres dari klise.
  4. Proses laminating gloss/doff, UV gloss/doff, spot UV, dsb. Kertas cetak tadi dilapisi dengan plastik mengkilat atau plastik buram/dop pada bagian luarnya sehingga menimbulkan kesan estetis tersendiri.
  5. Ponds, memotong kertas menjadi bentuk-bentuk tertentu akibat potongan pisau mesin pons. Bentuknya bisa berupa format untuk lipatan amplop, dus, dsb.
  6. Lem, untuk menyambungkan atau menyatukan kertas cetakan semisal amplop, pinggiran/punggung nota, kwitansi, buku, dll.
  7. Dan lain-lain finishing semisal menjilid, jahit benang/kawat, nomorator, lipat susun/sisip, membungkus dengan plastik, dsb. - tergantung keperluan. 

Garis Besar Proses Produksi Percetakan:

  1. Konsumen mendatangi tempat usaha / lokasi percetakan dengan membawa material atau konsep yang diinginkan untuk dicetak. Bila konsumen tidak siap dengan data dan konsepnya, maka kita bisa membantu dengan mengarahkan pada suatu bentuk produk yang efisien, tepat guna, sesuai dengan selera dan budget konsumen tsb.
  2. Bila konsumen sama sekali tidak mengerti, maka Desainer Grafis harus membimbing konsumen agar dapat memutuskan bentuk serta media apa yang ingin dicetak. Perencanaan bisa dimulai disini sebagai awal proses berikutnya.
  3. Setelah desain / artwork selesai dibuat, langsung diproses apakah harus menggunakan film atau lembaran master sebagai transformator / duplicator ke mesin cetak. Bisa juga diproses dengan menggunakan screen printing (sablon) atau langsung diproses embossed / hotprint stamping.
  4. Begitu hasil cetakan telah selesai dibuat, barang cetakan bisa di-finishing (sesuai permintaan). Kemudian barang cetakan dipotong supaya sama rata ukurannya dan kelihatan rapi. Terakhir kalinya barang harus di-packing (dikemas) untuk kemudian diantar/diambil oleh konsumen. 
(Sumber: Ebook Bisnis Usaha Percetakan | www.chabelita.biz)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar